Pukul 21.01, demikianlah waktu yang tertera disms yang aku terima dari anak komselku, bunyinya “Ka Echa lg dmn k?”…hmmmhph, rasanya ga enak membalasnya dan bilang “dirumah dek…, bla bla bla lalala…”. Dia ternyata (seperti dugaanku) sedang berkumpul dengan beberapa teman seangkatannya (2006) diCisitu untuk merayakan ulang tahun saudara komselnya (yang notabene anak komselku dong..). Aku sudah telepon anak itu, mengucapkan selamat ulang tahun dan bilang maaf karena aku tidak bisa datang. Well menurut perhitunganku kalau anak-anak itu kumpul jam 19.30, ditambah sedikit jam ngaret, ditambah perjalanan dari simpang Dago keCisitu, kira-kira jam 20.00 mereka baru sampai ditempat korban (yang ultah maksudnya :D ), aku takut aku kemalaman pulang, berhubung dari daerah situ kerumah bisa sampai satu jam, beklum lagi besoknya aku harus berangkat kerja kira-kira sebelum jam 6 pagi. Banyak banget ya alasannya? Maaf, tapi aku berusaha jujur, demikianlah keadaanku. Jujur juga aku sedih, tidak bisa ada disana, rasanya kurang afdol kalau dirayain tidak pada hari “H”nya :)
Bahkan tidak ada dipeta Bandung
Daerah rumahku bahkan ada dibagian paling bawah peta bandung, dan tidak digambarkan dengan lengkap. Bahkan beberapa jalan menuju rumah sudah tidak ada dipeta :D Padahal katanya sih masih termasuk kotamadya Bandung, karena dilewati tol Pasir Koja. Aku pindah kesini sekitar awal tahun 2006, waku itu aku sudah semester 5. Awalnya shock sih, karena jarak yang jauh. Dari sekitar 5-10 menit keITB dari Cemara sampai menjadi 45-60 menit perjalanan dari Cijerah tercinta ini. Huuuooo… Tapi jelas lebih enak, karena rumah sendiri, bukan kontrakkan. Bersyukur ini rumah pribadi yang kedua, walau tidak mewah. Tapi nyaman dan sangat hommy :) disebelah kiri ada sawah, jalan tol terus bukit-bukit gitu deeeh..Disebelah kanan jalan baru rumah tetangga lagi, jadi rumahku tidak dihimpit rumah lain.
Menangis diangkot, Gentleman Sion & perspektif Ilahi
Awalnya pindah aku sempat nangis diangkot, cape banget rasanya, belum lagi daerah rel (Andir) kalau sekali macet, tidak mengenal ampun. Aku sempat mengkhawatirkan pelayanan, apa sanggup ya fisikku? Mama bahkan menyarankan untuk mengurangi banyak, tidak usah pd, bla bla bla lalala… Tapi aku tidak mau! I’m serving God, the only living God, and I’m willing to give my life for the sake of Him & His Kingdom! (sangat patriotic ya! Hahah :)) ) Aku tetap melayani sampai lulus, bahkan sampai sekarang (based on His calling till now), aku pernah minta tempat kerja ditengah-tengah antara ITB dan rumah, dan Tuhan kasih :), tempat kerja yang sekarang juga tinggal sekali angkot kekampus…
Kembali kemasa kampus, aku bersyukur dipelayanan Sion, aku punya rekan-rekan pria yang gentleman, ada Yohanes, Walfredy, Rendy, Oki, Willy, Bang Keefvin, dan tentu saja siDimpos dengan kijang merahnya, yang pintunya sudah rusak, sampai semua penumpang harus masuk lewat pintu belakang :D (padahal orang tuanya sangat mampu loooch…), mereka inilah yang rajin nganterin aku pulang, kalau selesai PD atau ibadah Sion Raya yang biasanya diatas jam 20.00, bahkan beberapa dari mereka, yang menawarkan diri "dek diantar ya?"," kak, aku antar ya?", "Cha kuantar ya?" :) awalnya ga enak banget, kesannya tidak mandiri bla bla... tapi lama-lama menyenangkan juga, ada yang bisa diajak ngobrol sepanjang perjalanan. Well guys, aku tidak akan lupa deh apa yang telah kalian lakukan!
Kalau aku cape banget dalam perjalanan pulang, sendirian diangkot, kedinginan dan tiba-tiba mulai mengeluh, atau mengasihani diri sendiri. Aku akan bilang sama diriku, kalau aku melakukan semua ini untuk Tuhan, biarpun aku sendiri & kadang ketakutan, tapi Tuhan menjagaku, biarpun tidak ada yang melihat& nampak tidak berguna, tapi Tuhan melihat dan Dialah upahku. Dan satu perspektif yang selalu kubangun adalah “mungkin perjalanan jauh ini akan membentuk ketahanan fisikku, karena suatu hari aku akan banyak bepergian untuk melayani Tuhan, dan mungkin tempat-tempat itu sangat jauh”
Efektifitas waktu & kegiatan
Dengan rumah yang jauh, membuat aku belajar untuk efektif membagi waktu dan memilah kegiatan, well kadang sedih tapi itu harus. Aku memilih untuk pulang PD jam 8, terserah mau atmosfir sudah sampai kemana juga (walau mungkin kalau masih ada Dimpos atau Yohanes, aku bisa sampai selesai, karena pasti ada yang nemenin pulang hehe…:D ), komsel kupadatin, paling banyak dua kali seminggu, maunya sekali sih, tapi tingkat rohani mereka beda-beda.
Satu hal mungkin aku pingin belajar nyetir, walaupun mobil baru ada satu dirumah, yah siapa yang tahu nanti bisa dipercayakan Tuhan satu lagi, special buat aku…:) dulu pernah belajar motor tapi ga kuat eui bawanya, dan tidak diperbolehkan papa.
Aku tidak ingin mengeluh, aku bersyukur buat rumahku, keluargaku, dan semua yang ada dikota ini. Aku percaya Tuhan punya rancangan yang sempurna buat hidupku, everything will work out for my good.
Dan kalaupun aku mungkin menangis lagi diangkot, biarkanlah…
Aku bertumbuh kawan, menuju kedewasaan. Dan itu tidak mudah (loh endingnya kok jadi kaya gini? Heheh…)
GBU
Note : kata anak komselku, sang saudara komsel baru pulang jam 21.00 malam….:D selamat merayakan ya ade-adeku, n for my lovely Astrid, jangan lupa traktiran untuk komselmu…muuuaaach :X
Read more...